Mengulas Tentang Hidradenitis Suppurativa, Pengertian, Gejala dan Cara Pengobatannya

Hidradenitis Suppurativa atau juga disebut dengan jerawat inversa merupakan penyakit kulit yang dapat terjadi pada kurun waktu lama. Ditandai dengan timbulnya benjolan kecil yang lama-lama dapat membesar dengan nanah di dalamnya. Terjadi pada jaringan keringat atau pada bagian kulit yang memiliki rambut, jerawat inversa ini dapat terhubung antara satu kelenjar dengan lainnya sehingga menjadi lebih luas dan parah. Anda penasaran tentang jerawat yang satu ini? berikut adalah uraian mengenai jerawat inversa secara lebih detail.

Seperti dikatakan tadi bahwa jerawat inversa terjadi pada kelenjar keringat atau folikel rambut dengan diawali oleh benjolan kecil yang berisi nanah. Disebabkan karena terjadinya peradangan, benjolan tersebut dapat membesar hingga biji kacang dan terasa nyeri. Di bawah kulit, jaringan keringat menyatu satu sama lain begitu juga dengan saluran jerawat inversa. Karenanya peradangan ini bisa semakin luas sesuai dengan jaringan keringat yang terkena peradangan. Umumnya kondisi ini terjadi di lipatan kulit seperti di paha dan ketiak.

Hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti terjadinya jerawat inversa. Namun kondisi ini jelas diawali dengan tertutupnya folikel rambut atau kelenjar keringat sehingga terjadi peradangan. Diperkirakan faktor hormonal sangat mempengaruhi terjadinya masalah kesehatan pada kulit ini. Mereka yang memproduksi keringat berlebihan lebih beresiko terkena jerawat inversa. Selain itu ada beberapa kondisi lain yang juga mempengaruhi resiko terkena masalah kulit ini yaitu:

  • Faktor usia.
    Pada mereka yang berusia antara 20 hingga 29 tahun lebih rentan terkena masalah jerawat inversa ini. Namun tak menutup kemungkinan masalah ini juga bisa terjadi pada siapapun dengan berbagai rentang usia.
  • Faktor genetika.
    Mereka yang memiliki keluarga dengan riwayat jerawat inversa lebih beresiko memiliki penyakit yang sama. Satu dari 3 pasien jerawat inversa memiliki keluarga dengan masalah tersebut.
  • Jenis kelamin.
    Jerawat inversa lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pria.
  • Kebiasaan.
    Faktor lain yang juga bisa memperbesar resiko adalah memiliki kebiasaan merokok, obesitas dan memiliki penyakit diabetes.

Pengobatan untuk jerawat inversa dibagi menjadi sesuai stadium kondisi pasien itu sendiri. Adapun pembagian stadium untuk jerawat inversa yaitu:

  1. Stadium satu.
    Terbentuk benjolan peradangan kecil satu dan lainnya yang berjauhan dan tidak membentuk lesi.
  2. Stadium dua.
    Terjadi kekambuhan di area satu dan mulai terbentuk lesi atau saluran sinus.
  3. Stadium tiga.
    Abses terbentuk di beberapa lokasi dan sudah terhubung oleh saluran sinus.

Untuk pengobatan di stadium awal dapat dilakukan dengan pemberian obat-obatan oles seperti krim. Sedangkan untuk stadium menengah, pemberian obat seperti antibiotik, pereda nyeri dan anti peradangan akan dilakukan. Namun jika kondisi jerawat inversa sudah luas dan lebih parah, prosedur pembedahan bisa diperlukan untuk menghilangkan benjolan-benjolan yang berisi nanah.

Jika Anda memiliki gejala Hidradenitis Suppurativa seperti di atas, jangan ragu untuk langsung membawa diri periksa ke dokter kulit. Lebih cepat ditangani maka akan lebih baik karena Anda akan mendapatkan cara pengobatan yang lebih mudah dan ringan. untuk kasus jerawat inversa yang ringan, bisa juga hilang dengan sendirinya, namun juga dapat kambuh kembali dan menjadi lebih parah. Selain memperhatikan faktor resiko, perhatikan juga kebersihan di area yang sering terjangkit jerawat inversa yaitu pangkal paha dan ketiak. Mandi dengan bersih dan jika perlu gunakan sabun anti bakteri untuk membunuh kuman penyebab penyakit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *