OJK siapkan perpanjangan restrukturisasi pembiayaan multifinance terdampak Covid-19


Otoritas Jasa Keuangan (slik online OJK) akan memperpanjang restrukturisasi kredit yang telah disalurkan oleh sektor multifungsi. Awalnya, kebijakan ini akan berakhir pada Maret 2021.

Kepala Bidang Pengawasan IKNB OJK 2B Bambang W. Budiawan mengatakan, pihaknya saat ini sedang mengkaji kebijakan perluasan restrukturisasi keuangan perusahaan keuangan yang terkena Covid-19. Berbeda dengan bank, perusahaan multifinance harus melunasi pokok pinjaman dan bunga untuk sumber pembiayaan dari bank dan penerbitan surat utang.

Menjaga arus kas perusahaan pembiayaan, terutama perusahaan non-afiliasi (ATPM dan bank) secara berkelanjutan. Di sisi lain, multifinance memiliki akses terbatas terhadap pembiayaan bank dan tentunya kebijakan dalam hal pembiayaan PP juga harus direncanakan dan dilaksanakan.

Karenanya, regulator masih mengevaluasi berbagai hal agar kebijakan ini tidak memberatkan industri multifinance. Bambang menambahkan, OJK memantau dan mengevaluasi dampak yang akan ditimbulkan, agar kebijakan dan restrukturisasi yang akan dicanangkan lebih komprehensif.

Direktur PT Mandiri Tunas Finance (MTF) Harjanto Tjitohardjojo mengakui restrukturisasi yang berkepanjangan akan berdampak negatif pada sektor multifungsi. Pasalnya, likuiditas perusahaan terputus dan mengalami kerugian.

Karena bunga tidak dibayar oleh nasabah, sedangkan perusahaan tetap harus membayar debitur bank dan obligasi. Tentunya, kami menunggu manajemen dari OJK mengenai perpanjangan restrukturisasi tersebut. Ia menambahkan, seperti halnya pengurus OJK pada awal restrukturisasi April, berbagai penyelenggara keuangan akan menyesuaikan kebijakannya. Pada saat yang sama, MTF telah mengambil sejumlah aspek untuk penataan ulang jilid kedua ini.

OJK terus mencatat pembiayaan untuk perusahaan multi-keuangan yang terkena dampak wabah tersebut. Bambang mengatakan pada 27 Oktober 2020, terdapat 181 multifinance yang telah menerima permintaan restrukturisasi 5,4 juta kontrak dengan modal beredar Rp 161,66 triliun dan bunga Rp 42,43 triliun.

Menurut dia, ada 307.840 kontrak yang masih direstrukturisasi. Jumlah modal yang beredar adalah Rp. Bunga 11,44 triliun dan Rp. 37,41 triliun. Sedangkan, ada 301.641 kontrak yang aplikasinya tidak memenuhi kriteria. Jumlah modal yang beredar adalah Rp. 9,98 triliun dan bunga Rp. 2,54 triliun.

MTF telah memberikan bantuan kepada debitur yang terkena wabah tersebut. Pada September 2020, MTF telah merestrukturisasi Rs 13,7 triliun untuk debitur yang terkena dampak. Setelah restrukturisasi, MTF melakukan pemantauan pembayaran secara intensif. Armendra mengatakan, sejak Juni hingga September 2020, sekitar 95% debitur melakukan pembayaran sesuai jadwal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *